Hari Anak Nasional 2026: Membangun Generasi Berkarakter di Tengah Arus Digital

Opini: Oleh: Dr. Hamam Burhanuddin, M.Pd.I.

Tanggal 23 Juli 2026 merupakan Hari Anak Nasional (HAN), peringatan HAN bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum refleksi bersama mengenai sejauh mana bangsa ini telah memenuhi hak-hak anak untuk tumbuh, berkembang, belajar, dan memperoleh perlindungan. Di era digital yang berkembang sangat cepat, tantangan dalam membangun generasi Indonesia semakin kompleks. Anak-anak tidak lagi hanya berhadapan dengan persoalan gizi, kesehatan, dan akses pendidikan, tetapi juga menghadapi banjir informasi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), media sosial, hingga berbagai bentuk kekerasan digital yang dapat memengaruhi perkembangan karakter mereka.

Teknologi digital telah membuka ruang belajar yang tidak terbatas. Anak-anak dapat memperoleh pengetahuan dari berbagai sumber hanya melalui perangkat yang ada di tangan mereka. Berbagai platform pembelajaran, perpustakaan digital, hingga aplikasi berbasis kecerdasan buatan mampu membantu proses belajar menjadi lebih personal, interaktif, dan menyenangkan. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, tersimpan tantangan yang tidak ringan.

Tidak sedikit anak yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar tanpa pendampingan yang memadai. Paparan konten yang tidak sesuai usia, penyebaran informasi palsu, perundungan siber (cyberbullying), hingga kecanduan gim dan media sosial menjadi ancaman nyata terhadap perkembangan emosional, sosial, dan spiritual anak. Dalam kondisi demikian, pendidikan karakter menjadi fondasi yang tidak dapat digantikan oleh kecanggihan teknologi.

Bagi dunia pendidikan, Hari Anak Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik. Pendidikan harus mampu membentuk manusia yang berintegritas, berempati, bertanggung jawab, serta memiliki kemampuan berpikir kritis. Anak-anak perlu dibimbing agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, bukan sekadar menjadi pengguna pasif yang mengikuti arus perkembangan digital.

Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam, pembentukan karakter merupakan tujuan utama pendidikan. Nilai-nilai kejujuran, amanah, kasih sayang, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama harus ditanamkan sejak dini melalui keteladanan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Teknologi hendaknya menjadi sarana untuk memperkuat nilai-nilai tersebut, bukan justru mengikisnya.

Peran keluarga tetap menjadi faktor paling menentukan. Orang tua bukan hanya bertugas menyediakan fasilitas belajar, tetapi juga menjadi pendamping utama dalam membangun literasi digital anak. Pendampingan bukan berarti melarang penggunaan teknologi, melainkan mengajarkan bagaimana memilih informasi yang benar, menjaga etika dalam berkomunikasi, menghargai privasi, serta menggunakan media digital untuk kegiatan yang produktif.

Di sisi lain, sekolah memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Guru tidak lagi sekadar menjadi penyampai materi, tetapi juga fasilitator yang membimbing peserta didik dalam mengembangkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan komunikasi. Integrasi teknologi, termasuk kecerdasan buatan, perlu dilakukan secara bertanggung jawab dengan tetap mengedepankan nilai-nilai moral, etika, dan kemanusiaan.

Pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dunia usaha, dan komunitas juga memiliki peran yang sama pentingnya. Penyediaan ruang bermain yang aman, akses pendidikan yang berkualitas, perlindungan dari kekerasan dan eksploitasi, serta penguatan kebijakan perlindungan anak di ruang digital merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

Hari Anak Nasional hendaknya menjadi ajakan untuk memperkuat kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Anak-anak Indonesia adalah generasi yang kelak menentukan arah perjalanan bangsa. Mereka memerlukan pendidikan yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral, matang secara emosional, dan bijaksana dalam memanfaatkan teknologi.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah bangsa bukan hanya dilihat dari pesatnya perkembangan teknologi atau tingginya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas generasi yang berhasil dipersiapkan. Jika anak-anak hari ini tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, berakhlak mulia, adaptif terhadap perubahan, dan memiliki kepedulian terhadap sesama, maka Indonesia akan memiliki modal terbaik untuk menghadapi tantangan masa depan. Itulah makna sejati Hari Anak Nasional: memastikan setiap anak memperoleh kesempatan untuk tumbuh menjadi manusia yang utuh—cerdas, berdaya saing, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan. (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *