
Dosen MPAI UNUGIRI Jadi Narasumber Syawalan PC ISNU Bojonegoro
Bojonegoro – Momentum bulan Syawal dimanfaatkan oleh Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Bojonegoro untuk mempererat ukhuwah sekaligus memperkuat peran intelektual keislaman melalui kegiatan Syawalan yang digelar dengan khidmat. Dalam kegiatan tersebut, sebagai nara sumber Dr. H. Yogi Prana Izza, Lc, MA sekaligus dosen Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro hadir sebagai narasumber utama. Dr. Ima Isnaini T.R, M.Pd, Dosen IKIP PGRI Bojonegoro, dan modorator Dr. Hamam Burhanuddin, M.Pd.I.
Acara yang diikuti oleh para pengurus dan anggota ISNU, tokoh masyarakat, serta akademisi ini mengangkat tema “Catur Timur Tengah: Membaca Benturan Poros Teheran vs Washington–Tel Aviv dan Posisi Indonesia.”
Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah yang diibaratkan seperti permainan catur, di mana masing-masing aktor global memiliki strategi dan kepentingan tersendiri. Ia mengulas ketegangan antara Teheran sebagai representasi Iran dengan poros Washington, D.C.–Tel Aviv yang merepresentasikan kepentingan Amerika Serikat dan Israel.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya posisi strategis Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia untuk tetap mengedepankan prinsip politik luar negeri bebas aktif. Indonesia diharapkan mampu berperan sebagai penyeimbang dan mediator dalam menciptakan perdamaian global, khususnya dalam konflik yang berkepanjangan di kawasan tersebut.
“Dalam konteks global saat ini, Indonesia perlu memperkuat diplomasi kemanusiaan dan menjaga konsistensi dalam mendukung perdamaian dunia,” ungkapnya.
Ketua PC ISNU Bojonegoro dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran narasumber dari UNUGIRI yang telah memberikan wawasan strategis dan aktual bagi para anggota. Ia berharap kegiatan ini dapat meningkatkan literasi geopolitik kader ISNU agar lebih responsif terhadap isu-isu global.
Kegiatan Syawalan ini juga diisi dengan doa bersama, ramah tamah, serta diskusi interaktif yang memperkaya perspektif peserta terkait peran intelektual Muslim dalam merespons dinamika global. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan dan tanggapan yang disampaikan selama sesi diskusi berlangsung.
Melalui kegiatan ini, diharapkan sinergi antara dunia akademik dan organisasi keagamaan semakin kuat dalam membangun masyarakat yang tidak hanya religius, tetapi juga memiliki wawasan global yang luas. (Udin).
